Aisyah Al-Ba’uniyah, Sang Penulis Produktif dari Kalangan Sufi Perempuan | Orang islam wajib tau

Aisyah Al-Ba’uniyah, Penulis Produktif dari Kalangan Sufi Perempuan.

Brebes.net - Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Selamat datang kembali kali ini kita akan membahas kisah Aisyah albaniyah yaitu penulis produktif dari kalangan Sufi perempuan Islam menjadikan bekerja sebagai hak dan kewajiban individu dengan demikian antara laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam bekerja jadi Islam tidak membedakan dalam pembuatan syar'iyah atau tasyrik antara laki-laki dan perempuan keduanya di mata Allah Subhanahu Wa Ta'ala sama dalam mendapatkan pahala karena sesungguhnya manusia adalah makhluk hidup yang diantara tabiatnya adalah berpikir dan bekerja sebagaimana firman Allah dalam Alquran hai manusia 

sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa Dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling Taqwa diantara kamu sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha mengenal Alquran surah al-hujurat ayat 13 Alquran surat al-hujurat ayat 13 ini membahas tentang prinsip dasar hubungan antar manusia karena itu ayat ini tidak lagi menggunakan panggilan yang ditujukan kepada orang-orang beriman tetapi kepada semua umat manusia penggalan pertama ayat ini yaitu sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya sama disisi Allah tidak ada perbedaan antara satu suku dan yang lain tidak ada juga perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan hanya mungkin kodratnya yang berbeda kalau perempuan diciptakan untuk mengandung dan melahirkan tetapi dalam hal 

Aisyah Al-Ba’uniyah, Penulis Produktif dari Kalangan Sufi Perempuan.

lain seperti halnya bekerja itu sama saja asalkan sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah pengantar tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yakni sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi termulia di sisi Allah dalam surat an-nahl ayat 97 Quraish Shihab menjelaskan dalam kitabnya tafsir Al Misbah barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh apapun jenis kelaminnya baik laki-laki maupun perempuan sedang dia adalah mukmin yakni amal yang dilakukannya lahir atas dorongan keimanan yang shahih maka sesungguhnya pasti akan kami berikan kepadanya masing-masing kehidupan yang baik di dunia ini dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka semua di dunia dan di akhirat dengan pahala yang lebih baik dan berlipat ganda dari apa yang telah mereka kerjakan ayat ini menegaskan bahwa balasan atau imbalan bagi mereka yang beramal sholeh adalah imbalan dunia dan imbalan akhirat amal saleh sendiri oleh Syekh Muhammad Abduh didefinisikan sebagai segala 


perbuatan yang berguna bagi pribadi keluarga kelompok dan manusia secara keseluruhan sementara menurut Syekh azamaksari amal sholeh adalah segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal Alquran dan atau sunnah nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menurut definisi Muhammad Abduh dan jamaksari di atas maka seorang yang bekerja pada suatu badan usaha dapat dikategorikan sebagai amal sholeh dengan syarat perusahaannya tidak memproduksi atau menjual atau mengusahakan barang-barang yang haram dengan demikian maka seorang karyawan yang bekerja dengan benar akan menerima 2 imbalan yaitu imbalan di dunia dan imbalan di akhirat kemudian ayat ini juga merupakan salah satu ayat yang menekankan persamaan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya Aman yang artinya Siapa yang terdapat pada awal 


ayat ini sudah dapat menunjuk Kedua jenis kelamin lelaki dan perempuan tetapi guna penekanan dimaksud sengaja ayat ini menyebut secara tegas kalimat baik laki-laki maupun perempuan ayat ini juga menunjukkan betapa kaum perempuan pun dituntut agar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat baik untuk diri dan keluarganya maupun untuk masyarakat dan bangsanya bahkan kemanusiaan seluruhnya nah pada video kali ini kita akan membahas kisah seorang perempuan yang merupakan penulis produktif dari kalangan Sufi perempuan beliau adalah Aisyah Albania Aisyah Albania wafat pada tahun 922 Hijriah adalah perempuan penyair sastrawan ahli fiqih guru besar atau syaikha dan Sufi Nama lengkapnya adalah Aisyah binti Yusuf bin Ahmad bin nasiruddin albaniah Ma'un merupakan nama desa di ajlun yaitu Yordania Ia lahir di damaski atau damaskus pada tahun 864 Hijriyah leluhur Aisyah albaoniyah menurut analisa th Emil khomerin paun merupakan tempat asal leluhur Aisyah albaqyah Nasir buyut Aisyah adalah penenun dan pedagang kain di Baon demi 

mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang layak untuk anaknya Natsir pindah bersama keluarganya ke nazaret sekitar tahun 1395 Masehi kemudian anak sulungnya yaitu Ismail bin Nasir menjadi wakil Qolbi di sana dan mengabdikan dirinya untuk menyelami tasawuf anak terakhirnya yaitu Ahmad bin Yusuf yang merupakan kakek Aisyah memiliki kecerdasan di atas rata-rata ia berhasil menghafal Alquran di usia 10 tahun dan di usia yang sangat mudah telah menempati jabatan administratif di nazaret ketiga Ia melakukan perjalanan ke Kairo Sultan barcok mengangkatnya sebagai Khatib dan pengurus Masjid Umayyah dinamai atau damaskus kemudian ia diangkat menjadi kaltimal Syafi'i di damaskus Sejak saat itu Ahmad bin Nasir Al baqoni tinggal di damaskus dan seluruh anak-anaknya menjadi ulama termasuk Yusuf yaitu ayah dari Aisyah al-baqaniah Yusuf merupakan ulama ahli fiqih tasawuf dan hadis ia diangkat menjadi k tripoli aleppo kemudian ia menjadi ketua kalti Mazhab Syafi'i di damaskus ini menunjukkan bahwa Aisyah Albania lahir di keluarga ulama ternama saudara Aisyah Albania Aisyah Albania memiliki 4 saudara laki-laki yaitu Abdul Latif Abdurrahman Abdullah dan Muhammad Dari keempat saudaranya Muhammad 


bisa dibilang yang paling menonjol ia menjadi kau tidak aleppo dan terkenal sebagai sejarawan dan penyair tapi dalam hal kemampuan kecerdasan keahlian dan kemasyhuran semuanya kalah dengan Aisyah kecerdasan Aisyah Albania Aisyah Albania sudah hafal Alquran di usia 8 tahun ia berkata Allah menganugerahkan kepadaku dapat menghafal Alquran dengan sempurna di umur 8 tahun kemudian bertanah sub atau mendalami ibadah dan belajar tasawuf kepada Ismail al-khawarizmi lalu pada penggantinya yaitu Yahya Al ormawi Aisyah albaqoniyah Sangat gemar menuntut ilmu Ia mempelajari hampir segalanya dari mulai Alquran Hadis sastra Arab sampai tasawuf Ia memiliki banyak guru dari lintas bidang sebut saja Ismail al-hurani Muhidin Al amori Ismail Al Khawarizmi 


Yahya Al umawi dan masih banyak yang lainnya damaskus kota terpenting kedua Dinasti Umayyah yang berpengaruh pada perkembangan intelektual Aisyah damaskus saat itu menjadi kota terpenting kedua dinasti memeluk setelah Kairo Ia merupakan pusat ilmu pengetahuan kota yang sejahtera indah dan berwarna seorang penjelajah Prancis yaitu bet randon Della borroquer mengatakan ini saat melewati damaskus pada tahun 1432 damaskus adalah kota yang kaya komersil dan setelah Kairo damaskus adalah kota paling penting yang dikuasai Sultan aku belum pernah melihat taman yang begitu luas buah-buahan yang lebih baik ataupun air yang lebih banyak bisa dikatakan sangat melimpah sampai hampir tidak ada rumah tanpa air mancur hal ini berpengaruh pada perkembangan intelektual Aisyah Karena memungkinkannya untuk mengakses banyak pengetahuan dinasti memaluk banyak membangun masjid dan Madrasah mereka juga merenovasi dan memperbaiki banyak institusi lama seperti rumah sakit yang 


dulu dibangun oleh Nuruddin Ashanty rumah sakit ini di bawah pengawasan Yusuf yaitu Ayah Aisyah direnovasi dan diperluas salah satu institusi yang dikelola oleh dinasti Mamak adalah perpustakaan Al ashrafiah yang memiliki lebih dari 2000 judul Meskipun tidak besar perpustakaan masih dikenal sampai sekarang karena katalog buku-buku koleksinya bertahan sampai sekarang Aisyah banyak membaca dan mengutip dari buku-buku koleksi perpustakaan Aisyah albaniyah menikah dengan seorang Said yang bernama Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar bin Ali bin Ibrahim Ayah suaminya merupakan naqli yaitu ketua kalangan Syarif atau keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Ia memiliki dua anak yaitu Abdul Wahab dan barakah perjalanan Aisyah albaniyah ke Kairo pada tahun 919 Hijriah Aisyah albaqoniah melakukan perjalanan menuju Kairo bersama anaknya yaitu Abdul Wahab dalam perjalanan mereka bertemu Bandit dan barang bawaannya dicuri termasuk karya tulis Aisyah di Kairo mereka dijamu oleh wazirul khaijyah 


atau menteri luar negeri yaitu Mahmud bin Muhammad bin aja ia membantu Abdul Wahab untuk mendapatkan pekerjaan dan membantu Aisyah masuk dalam lingkaran akademik atau ke ulamaan di Kairo Aisyah albaniyah juga mendalami tasawuf terlahir dari keluarga ulama Aisyah Albania mengikuti tradisi keluarganya yaitu mendalami tasawuf Paman buyutnya merupakan seorang Sufi pamannya yaitu Ibrahim Pemimpin sebuah kelompok nyanyian Sufi sedangkan ayahnya yaitu Yusuf albaoni yaitu penganut tarekat qodiriyah thariqah yang diikuti juga oleh Aisyah tidak mengejutkan jika Aisyah banyak membaca buku-buku tasawuf ia membaca karya-karya klasik tasawuf dari asaraj yang wafat pada tahun 988 Ia juga membaca karya-karya klasik tasawuf dari Al kalabazi yang wafat pada tahun 995 kemudian assulami yang wafat pada tahun 1021 kemudian Al qusyairi yang 


wafat pada tahun 1074 kemudian alokasi yang wafat pada tahun 111 kemudian umat Al surawardi yang wafat pada tahun 1234 Aisyah Albania adalah seorang yang produktif dalam menulis Aisyah Albania menulis banyak buku sekitar 20 buku mungkin lebih sebagian buku-bukunya hilang hamerin mengatakan mungkin Aisyah menulis lebih banyak karya dalam bahasa Arab dibanding wanita lain manapun sebelum abad ke-20 Aisyah Albania menunjukkan Aisyah albaniyah menunjukkan meskipun harus mengurus anak dan rumah tangga Ia tetap bisa belajar mengajar dan menulis karya-karya hebat bahkan menulis sirah Nabi Muhammad yang diberi judul Al mauridul ahna Fil maulidil Asna Mungkin ia satu-satunya wanita sebelum abad ke-20 yang menulis atau menyusun sejarah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai ulama Sufi dan penyair atau syair ia meninggalkan banyak karya sastra ia menggubah banyak syair yang memuji 


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beberapa diantaranya adalah keindahanmu terlalu menawan untuk akal cintamu di relung hati menetap tentram di bait lain ia mengatakan menciptakanlah seluruh alam semesta untuknya agar terterangi oleh kebesaran manifestasi belas kasih Berikut merupakan beberapa karya tulis Aisyah albaniyah dari sekian banyak tulisannya beberapa judul dari karyanya hilang judul-judul dari karya yang hilang diketahui dari kitab-kitab ensiklopedia dan biografi ulama-ulama masa lalu berikut sebagian dari karya-karyanya yang pertama yaitu Al isyaratul kafiyah Fima nazilil Aliyah buku tersebut dikategorikan hilang yang kedua ada maulidun Nabi Yusuf yang ketiga almauridul ahna fil maulidil Asna yang keempat diwanul Bang oniyah yang kelima al-fath yang ke-8 tasrif berpikir final yang ke-9 Al muntak kafiun yang ke-10 al-fatul karib Fi Mi'raj 

Aisyah Al-Ba’uniyah, Penulis Produktif dari Kalangan Sufi Perempuan.

Habib juga buku tersebut hilang yang ke-11 asubda Vita kemisil Burdah juga hilang yang ke-12 alkaulus sahih bordatil Madi yang ke-13 madra Aisyah al-baqaniah wafat di damaskus pada tahun 923 Hijriah Dalam usia kurang lebih 55-56 tahun Ia meninggalkan warisan luar biasa dan menjadi bukti bahwa di masa lalu ada wanita yang telah melahirkan karya-karya besar karya-karya yang akan terus menginspirasi dari generasi ke generasi demikianlah kisah Aisyah Albania penulis produktif dari kalangan Sufi perempuan Semoga kita banyak mengambil pelajaran Terima kasih  wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Posting Komentar untuk "Aisyah Al-Ba’uniyah, Sang Penulis Produktif dari Kalangan Sufi Perempuan | Orang islam wajib tau"